Contoh Laporan Untuk Kenaikan Tingkat
DESKRIPSI
BIMBINGAN TEKNIS (BIMTEK)
PROGRAM GURU BELAJAR SERI MASA PANDEMI COVID-19
TAHUN 2020
(10 – 20 Oktober 2020)
A. Nama kegiatan
Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19 Tahap 1
B. Penyelenggara
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
C. Lokasi Kegiatan
Adapun tempat penyelenggaraan kegiatan pelatihan adalah di laksanakan secara virtual di lokasi domisili masing-masing Guru Belajar Mengajar.
D. Waktu kegiatan dan Materi Pelatihan
Waktu kegiatan Bimtek Tahap 1 diselenggarakan selama selama 10 hari Mulai dari Tanggal 11 s.d 20 Oktober 2020 dengan materi sebagai berikut :
|
NO. |
POKOK MATERI |
JUMLAH JP |
|
A |
Pokok |
|
|
1. |
Konsep Pembelajaran Jarak Jauh |
3 JAM |
|
2. |
Konsep Kurikulum Pada Kondisi Khusus |
6 JAM |
|
3. |
Model Pembelajaran Jarak Jauh |
6 JAM |
|
4. |
Asesmen Diagnosis di Awal Pembelajaran |
6 JAM |
|
5. |
Asesmen Diagnosis Berkala |
6 JAM |
|
6. |
Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Jarak Jauh |
3 JAM |
|
B |
Penunjang |
|
|
1 |
Asesmen Pra dan Asesmen Pasca |
2 JAM |
|
JUMLAH JAM |
32 JAM |
|
E. Peserta Pelatihan
Semua Guru dan Tenaga Kependidikan yang mengajar atau bekerja pada dunia pendidikan di seluruh Indonesia dan terdaftar di Sim PKB
F. Uraian kegiatan
Ø Pada tahap awal semua peserta mengikuti acara pembukaan kegiatan Bimtek secara on-line / Virtual

Ø Pada kegiatan berikutnya mengikuti dan menyimak materi dari video yang ditayangkan dan wajib diikuti

Ø Pada tahap berikut peserta membaca teks materi dan pesan-pesan flayer bergambar

G. Rangkuman Materi
Asesmen Di Awal Pembelajaran
DAMPAK Pandemi COVID-19 kepada siswa:
1. Terjadinya ketidaktercapaian belajar
2. Penurunan kemampuan siswa
3. Ketimpangan pengetahuan yang semakin lebar untuk siswa dengan akses yang berbeda, seperti ketersediaan materi, koneksi internet antara kelompok akses memadai dan kelompok akses tidak memadai
4. Perkembangan emosi dan kesehatan psikologis terganggu
5. Rentan putus sekolah
6. Dapat berdampak pada pendapatan siswa di kemudian hari
SOLUSI Siklus Asesmen di Awal Pembelajaran secara Berkala
Tujuan: Memonitor perkembangan nonkognitif dan kognitif siswa selama masa pandemi untuk memenuhi target capaian belajar
01 Asesmen Nonkognitif
Tujuan asesmen nonkognitif untuk mengetahui:
- Kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa
- Aktifitas selama belajar dari rumah
- Kondisi keluarga siswa
02 Asesmen Kognitif
Tujuan asesmen kognitif untuk:
- Mengidentifikasi capaian kompetensi siswa
- Menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa
- Memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata
03 Tindak Lanjut dan evaluasi
“Kepala sekolah bertanggung jawab untuk memastikan asesmen dilakukan di semua kelas di minggu pertama dan secara berkala pada awal pembelajaran”.
Apa saja yang dilakukan para guru dalam kegiatan asesmen ini?
I. Nonkognitif
A. Persiapan
- Siapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi
- Buat daftar pertanyaan kunci, seperti:
- Apa saja kegiatan kamu selama Belajar dari Rumah?
- Hal apa yang paling menyenangkan dan tidak menyenangkan?
- Apa harapan kamu?
B. Pelaksanaan
- Berikan gambar emosi ke siswa
- Minta siswa mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah dengan bercerita, membuat tulisan atau menggambar
C. Tindak Lanjut
- Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata
- Menentukan tindak lanjut dan mengkomunikasikan dengan siswa serta orang tua bila diperlukan
- Ulangi pelaksanaan asesmen nonkognitif pada awal pembelajaran
II. Kognitif
A. Persiapan
- Buat jadwal pelaksanaan asesmen
- Identifikasi materi asesmen berdasarkan penyederhanaan kompetensi dasar yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Susun 10 soal sederhana:
o 2 soal sesuai kelasnya, dengan topik semester 1
o 6 soal dengan topik satu kelas di bawah, untuk semester 1 dan 2
o 2 soal dengan topik dua kelas di bawah, untuk semester 2
B. Pelaksanaan
Berikan soal asesmen untuk semua siswa di kelas, baik secara tatap muka ataupun Belajar dari Rumah
C. Tindak Lanjut
- Lakukan diagnosis penilaian hasil asesmen
- Berdasarkan hasil diagnosis penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok:
a. Siswa dengan rata-rata kelas akan diajar oleh guru kelas
b. Siswa 1 semester di bawah rata-rata, mendapatkan pelajaran tambahan dari guru kelas
c. Siswa 2 semester di bawah ratarata, akan dititipkan ke guru kelas di bawah atau membuat kelompok belajar yang didampingi orang tua, anggota keluarga atau pendamping lainnya yang relevan
- Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru
- Ulangi proses yang sama di setiap awal pembelajaran selama masa pandemi untuk melakukan adaptasi materi pembelajaran sesuai tingkat kemampuan siswa
Pembelajaran Jarak Jauh dengan Cara 5M
Anda telah memahami prinsip, tujuan dan pendekatan pembelajaran jarak jauh. Sebagai pendidik, perlu mengingat kembali bahwa tujuan pendidikan berpusat pada siswa. siswa mampu mengembangkan kompetensi sehingga mereka dapat menalar, menjadi pribadi mandiri yang mampu menghadapi ujian bermakna dan kelak siap untuk mengatasi tantangan dalam kehidupan.
Pembelajaran jarak jauh membuat kita mengerti bahwa proses belajar tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh guru. Oleh karena itu, guru perlu merancang pembelajaran jarak jauh yang bermakna. Bermakna dalam artian relevan secara konteks dan konten dengan kehidupan siswa.
Lantas, bagaimana merancang pembelajaran jarak jauh yang dapat mengembangkan kompetensi siswa? Pada aktivitas ini, Anda akan mempelajari kunci memfasilitasi Pembelajaran Jarak Jauh bermakna dengan Cara 5M. Apa itu Cara 5M? Cara 5M adalah pilihan cara untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan dan melibatkan siswa, orangtua maupun komunitas. Cara 5M terdiri dari:
- Memanusiakan hubungan
- Memahami konsep
- Membangun keberlanjutan
- Memilih tantangan
- Memberdayakan konteks
Pandemi Covid-19 telah membukakan cara pandang dan kebiasaan baru mengenai proses pembelajaran yang idealnya melibatkan guru, siswa dan orangtua. Perubahan situasi dari pembelajaran yang selama ini lebih berfokus pada peran guru, sekarang mulai beralih pada situasi dimana orang tua dan guru saling berbagi peran dalam memfasilitasi pembelajaran siswa.
Cara 5M; Memanusiakan hubungan, Memahami konsep, Membangun keberlanjutan, Memilih tantangan, dan Memberdayakan konteks, dalam Pembelajaran Jarak Jauh, mendorong siswa belajar lebih bermakna untuk meningkatkan kompetensinya. Sejalan dengan hal ini, Cara 5M juga memberikan ruang yang lebih luas bagi keterlibatan orangtua dalam proses pembelajaran siswa.
Tujuan 5M dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Tujuan dari 5M meliputi:
1. Mendorong kolaborasi orangtua, guru dan murid untuk berdaya belajar dalam menghadapi situasi darurat akibat wabah virus corona.
2. Memastikan anak mendapatkan personalisasi pengalaman belajar yang bermakna, menantang dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak.
Bagian-Bagian 5M
5M meliputi:
- Memanusiakan hubungan
- Memahami konsep
- Membangun keberlanjutan
- Memilih tantangan
- Memberdayakan konteks
1. Memanusiakan Hubungan
5M Pembelajaran Jarak Jauh yang pertama adalah memanusiakan hubungan. Memanusiakan hubungan bermakna praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid dan orangtua.
Memanusiakan hubungan dengan orang tua dapat dilakukan dengan mengetahui profil, kondisi orang tua termasuk pengumpulan informasi terkait waktu yang paling tepat untuk mendampingi proses belajar anak sehingga tercipta suasana yang kondusif untuk belajar.
Guru dan orangtua dapat berdiskusi tentang:
- Cara belajar murid
- Kebiasaan murid di rumah
- Latar belakang keluarga murid
- Perkembangan dan proses belajar murid
- Pekerjaan orangtua
2. Memahami Konsep
5M Pembelajaran Jarak Jauh yang kedua adalah memahami konsep. Memahami konsep bermakna praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks.
Bagaimana dengan keterlibatan orangtua?
Memandu pembelajaran anak yang bukan hanya sekedar menguasai konten tetapi menguasai kompetensi yang dapat diterapkan dalam beragam konteks.
Guru dan orangtua dapat berdiskusi tentang:
- Aktivitas pembelajaran di rumah
- Tujuan pembelajaran
3. Membangun Berkelanjutan
5M Pembelajaran Jarak Jauh yang ketiga adalah membangun berkelanjutan. Membangun keberlanjutan bermakna praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik.
Bagaimana dengan keterlibatan orang tua?
Memandu anak mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dengan berbagai praktik baik. Misalnya, memberikan umpan balik atau respon terhadap hal-hal yang dilakukan oleh anak dalam pembelajaran di rumah.
Orangtua dan anak dapat berdiskusi tentang:
- Apa yang sudag dipelajari
- Tantangan/kesulitan yang dihadapi
- Strategi untuk mengatasi kesulitan
4. Memilih Tantangan
5M Pembelajaran Jarak Jauh yang keempat adalah memilih tantangan. Memilih tantangan bermakna praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna.
Bagaimana dengan keterlibatan orangtua?
Orangtua memastikan bahwa anak-anak dapat menguasai keahlian dengan berbagai pilihan cara yang sesuai dengan profilnya.
Orangtua dapat:
- Memberikan pilihan media dan cara untuk belajar atau melakukan tugas.
- Menyusun jadwal belajar bersama dengan anak.
5. Memberdayakan konteks
Praktik pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi terhadap perubahan.
Bagaimana dengan keterlibatan orangtua?
Orangtua dapat mendorong anak untuk terlibat mengenali komunitasnya. Orangtua juga merupakan akses belajar murid yang cukup relevan dalam proses pembelajaran dari rumah.
Orangtua dapat:
- Berdiskusi dengan anak mengenai peristiwa atau persoalan yang sedang terjadi di sekitar tempat tinggalnya.
- Menghubungkan pembelajaran dengan konteks komunitas terdekatnya.
- Orangtua dapat menjadi narasumber untuk topik-topik yang relevan, misalnya terkait pekerjaan orangtua.
Panduan: Pembelajaran Jarak Jauh








Asesmen Untuk Pembelajaran (Assessment for Learning)
Asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning) adalah proses untuk mencari dan menginterpretasi bukti yang dapat digunakan oleh siswa dan guru untuk memutuskan posisi siswa dalam pembelajaran, kemana tujuan yang akan dicapai berikutnya dan bagaimana jalan terbaik untuk mencapainya.
Hal ini sesuai dengan pengertian asesmen yaitu penilaian. Sedangkan asesmen dalam pendidikan memiliki pengertian kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya untuk memperoleh gambaran tentang kondisi individu dan lingkungannya sebagai bahan untuk memahami individu dan pengembangan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan.
Asesmen
Untuk Pembelajaran (Assessment for Learning)
Istilah Assessment for Learning (AfL) tidak populer bagi kalangan pendidik di Indonesia karena kebanyakan guru berpikir bahwa asesmen hanyalah bagian pelengkap dari suatu proses belajar. Guru melakukan asesmen ketika akan melakukan penilaian untuk siswa pada bagian akhir dari program pengajaran, biasanya dilakukan melalui ujian tengah semester dan ujian akhir semester.
Padahal salah satu bagian vital dari proses pendidikan adalah asesmen guna mengetahui bagaimana kualitas pembelajaran siswa. Satu hal yang juga perlu diingat bahwa asesmen merupakan jalan untuk mengajar secara lebih efektif dengan mengetahui secara pasti apa yang diketahui siswa dan apa yang belum diketahui siswa.
Asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning) didasarkan pada ide bahwa siswa akan memperbaiki pembelajaran mereka jika mereka memahami tujuan pembelajarannya.
Elemen-elemen kunci dari assessment for learning adalah:
- Penggunaan metode bertanya yang efektif
- Umpan balik terhadap pekerjaan yang diakses
- Tujuan pembelajaran yang dirumuskan bersama antara guru dan siswa
- Peer and self-assessment
- Penggunaan asesmen untuk merencanakan pembelajaran
Dengan demikian guru tidak hanya memberikan skor atau nilai, tetapi juga memberikan komentar terhadap tugas atau pekerjaan yang telah dikerjakan siswa. Komentar yang diberikan guru hendaknya dapat menuntun siswa bagaimana cara memperbaiki pekerjaannya.
Assessment for learning tidak hanya menyangkut bagaimana kualitas pekerjaan siswa, tetapi juga mengenai cara guru menggunakan asesmen. Guru harusnya menggunakan asesmen untuk merencanakan pelajaran, mengidentifikasi kebutuhan siswa dalam pembelajaran dan mengajarkan kembali materi-materi yang belum dipahami dengan baik oleh siswa.
Agar efektif, assessment for learning hendaknya menjadi bagian sentral dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini dapat dimulai dengan merumuskan tujuan pembelajaran bersama-sama antara guru dan siswa. Dengan demikian, siswa menyadari tujuan belajarnya pada suatu materi pelajaran. Kriteria asesmen juga harus jelas bukan hanya bagi guru, tetapi juga bagi siswa. Siswa perlu untuk mengetahui apa yang dinilai guru ketika mengakses pekerjaan siswa dan apa dasar yang menjadi pertimbangan guru untuk menentukan keputusan terhadap pekerjaan siswa yang diakses tersebut.
Hal ini sesuai dengan siklus asesmen seperti tampak pada gambar dibawah ini.
Siklus
asesmen dapat berjalan efektif jika asesmen dilakukan secara kontinyu, melalui day-to-day
assessment dan periodic assessment. Day-to-day assessment dapat
dilakukan sebagai sisipan dalam proses pembelajaran; observasi, diskusi, tanya
jawab dan menganalisis pekerjaan siswa. Sementara, periodic assessment
dilakukan dua atau tiga kali dalam setahun.
Metode assessment for learning menjadi tren di beberapa sekolah di Inggris adalah metode traffic light. Metode tersebut digunakan guru untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan dengan cara mengangkat kartu berwarna merah, hijau, atau kuning. Kartu hijau menandakan bahwa siswa memahami materi dengan baik, sebaliknya untuk kartu warna merah. Kartu kuning menunjukkan bahwa masih ada bagian dari materi yang belum dipahami siswa.
Memang, untuk memulai assessment for learning memerlukan perubahan kultur di sekolah dan sistem pendidikan. Terlebih jika selama ini dalam sistem pendidikan kita asesmen dilakukan dengan tujuan untuk menyeleksi dan menyortir siswa ke dalam kelompok kemampuan tinggi dan kemampuan rendah.
|
Mengetahui Kepala Sekolah,
NANDAN, S. Pd. SD NIP 19660721 199301 1001 |
Kalapanunggal, 22 Oktober 2020 Peserta Pelatihan,
HERI PERMANA S, S. Pd NIP 19750521 201410 1 003 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar