TRAGEDI KATULAMPA
Penulis : Rheyz Permana
Di sebuah tempat yang ada di ujung sebelah timur kampung citatah desa Kadununggal ada sebuah tempat yang bernama Katulampa.tepatnya di tempat tersebutlah pada Zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Katulampa.Disanalah ada kejadian yang sangat aneh yang menimpa pada orang Katulampa Zaman dahulu,itu kejadian gak tau benar ata tidaknya, namanya juga cerita di ceritakan kembali. Jadi kalau memang itu benar harus jadi renungan walaupun bohong mudah mudahan jadi catatan buat kita semua di dunia.
Diceritakan disatu tempat itu ada satu keluarga yaitu di Katulampa tengah kebun jauh ke mana-mana.Sebut aja itu namanya mak icah dan mang ikin(namanya samaran). Kalau pekerjaan mak icah dan mang ikin itu sehari harinya bertani. Berangkat pagi pulang sore untuk menghidupi kehidupannya.Walaupun tidak kaya kehidupan mak icah dan mang ikin tidak kekurangan, namun dua-duanya sama-sama rajin nyari pekerjaan dan bisa memangfaatkan segala hasil taninya, sehingga dalam segala musim jarang kekurangan makanan.
Sungguh disesalkan dalam keluarga tersebut sangat berbeda , mang Ikin orangnya baik suka menolong orang yang butuh, berbeda dengan mak icah,kalau Mak icah orangnya pelit tidak mau menolong orang susah takut kehabisan rizki yang sudah ada kalau di berikan kepada orang yang membutuhkan. Suatu saat katulampa mengalami musim kemarau berkepanjangan tanaman kering tidak ada yang bisa hidup, binatang-binatang banyak yang mati,susah makanan.Mata air banyak yang kering akibat kemarau panjang. Tanah kering pecah-pecah sulit di pakai untuk bertanam.akhirnya Katulampa kesulitan.
Suatu hari mak Icah dan mang Ikin sedang ngobrol membicarakan suatu hal yang sepertinya sangat penting
“ Pa.., kok persediaan padi kita di lumbung sepertinya berkurang beberapa ikat ?” ucap mak icah membuka pembicaraan sambil menggeserkan sirih di mulutnya.
“ oh.. iya mak kemarin mang juned meminjam katanya sudah dua hari keluarganya tidak menemukan makanan, lagian kasihan anaknya sakit lagi “ jawab mang Ikin sambil mengepulkan asap roko dimulutnya keatas.
“Eeh..kok bapa nggak bicara dulu sama aku, kan kita juga sama sedang membutuhkan lagian ini musim apa coba.....!” jawab mak icah dengan nada kesal.
“alah ..bu jangan takut kekurangan bu kan rizki itu Allah yang ngatur, lagian menolong sesama itu kan diwajibkan oleh islam kan bu..” jawab mang Ikin dengan lembut.
“huuh....” sambut mak Icah dengan kesal kemudian pergi ke dapur meneruskan masak menghangatkan nasi yang kemarin.
Obrolan tidak berlanjut. Saat mak icah cemberut karena kesal, mang Ikin kemudian keluar dari rumah dan pergi meninggalkan rumah untuk melihat kebun di belakang rumah dengan harapan ada yang bisa dipanen . saat mak Icah di dapur tidak tahu asal mulanya tiba-tiba ada yang mengucap salam : “Assalamualikum ...!”. mak Icah tidak mendengarnya karena sedang asyik membetulkan letak suluh
di trungkunya.
“Assalamuailkum......!”. kembali ucapan salam terdengar. Mak Icah terkejut karena sedang asyik memikirkan sesuatu sambil bekerja suara terdengar keras membuyarkan lamunannya.
Mak Icah menyangka bahwa suara tersebut adalah Mang Ikin sedang mempermainkannya, karena mak icah menyangka bahwa mang ikin masih di depan.
Setelahsampai di teras pas membuka pintu, ma icah kaget bukan mang ikin yang mengucapkan salam itu,yaitu seorang kakek-kakek membawa tongkat dengan berpakaian robek,bau lagi wajahnya kelihatan lesu sambil bicara pelan “assalamualaikum bu permisi ada rizki yang bisa di bagikan, sudah dua hari tidak makan tidak minum“ ’’kata si kakek sambil mengelas“Emh ...kakek boro-boro untuk di kasihkan kami juga lagi kekurangan, maap aja ya ke..!”kata ma Icah sambil culas.
“kirain ibu punya segelas air putih untuk kakek,kata si kakek sambil memelas.
“ ini aja ke yang di gayung...!” kata bu Icah sambil menyemborkan airnya ke muka si kakek.
“ Astagfirullah hal adzim” si kakek istigfar sambil mengusap dada, si kakek menancapkan tongkatnya sambil terus mengusapan mukanya dengan baju yang robek, “ ibu,kenapa begitu sikapnya kata si kakek”kalau memang tidak rido biarin ga usah begitu, kaya orang yang tidak punya sopan santun, dari mulai sekarang orang sini walaupun kaya tidak bakalan bisa hidup di ujung rukun islam.Walaupun sebagaimana kayanya, sebab sudah mengaku rizki yang ada di anggap tidak ada.”kata si kakek sambil pergi membawa tongkatnya.
Langit menderu, awan menutupi langit di katulampa diiringi menggelegarnya suara petir memekak telinga mengiringi ucapan si kakek seperti yang menyetujui ucapannya. Nah dari mulai situ orang situ walaupun kaya, sawah luas, kebun luas,dan segala macam kekayaan lainnya yang di miliki belum ada yang diceritakan bisa berangkat ke tanah suci,pernah itu juga yang mau pergi tapi selalu ada halangan, tapi ini cerita mudah mudahan sekedar rekaan bahkan jadi pelajaran untuk kita semua agar lebih hati-hati dalam tingkah laku. Hanya sampai di sini cerita yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya mohon maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar